Era Disrupsi Melalui Transformasi Bisnis Digital Masyarakat Modern

Oleh: Hadi Satria Ganefi
(Dosen Fakultas Ekonomi & Bisnis UPS Tegal)

Pandemi Covid-19 saat ini masih belum menunjukkan titik perbaikan. Sebaliknya kasus terjadinya infeksi setiap hari masih terus bertambah di beberapa wilayah Indonesia.

Hal ini secara otomatis menimbulkan kebiasaan dan peradaban baru yang dilakukan masyarakat dalam menjalani kehidupan sehari-hari termasuk dalam aktivitas perekonomian masyarakat umum.

Di sisi lain adanya perubahan yang sangat dinamis dalam dunia teknologi menjadikan interaksi antarmanusia menjadi tidak terbatas lagi.

Sebagai salah satu contoh internet yang merupakan sarana teknologi komunikasi saat ini tidak hanya sebatas digunakan untuk browsing, membuat status atau komunikasi media sosial ataupun hanya sekedar menonton Youtube.

Namun, lebih dari itu adanya pola pergeseran ke arah yang bersifat konsumtif dan produktif dalam memanfaatkan teknologi komunikasi tersebut.

Seperti contoh halnya pada dunia usaha (bisnis). Jika sebelumnya masyarakat umum khususnya pelaku usaha saat menjalani atau berniat untuk memulai sebagai seorang wirausaha membutuhkan modal cukup besar ataupun tempat sebagai sarana dan penunjuang usaha maka di era disrupsi saat ini hal tersebut sudah tidak relevan lagi.

Hal ini tentu sebagai akibat dari adanya pergeseran aktivitas ekonomi konvensional menuju ekonomi digital. Adanya ekonomi bisnis digital saat ini masyarakat bisa dengan mudah untuk melakukan aktivitas ekonomi dengan memanfaatkan banyaknya marketplace.

Data Bank Indonesia mencatat bahwa pada kuartal I (Q1) 2021, jumlah transaksi digital khususnya pada platform e-commerce di Indonesia mencapai 548 juta dengan nilai transaksi sebesar Rp88 triliun. Nilai tersebut tentu masih akan terus meningkat meskipun pandemi telah berakhir.

Hal ini didasari sikap masyarakat yang sudah mulai berubah, lantaran akibat dari digitalisasi akhirnya memberikan customer experience melalui segala kemudahan dalam melakukan transaksi.

Customer experience ini selanjutnya terakumulasi dan membentuk customer behavior sehingga akan cukup sulit bagi masyarakat untuk kembali pada transaksi offline.

Digitalisasi memberikan stimulasi aktivitas ekonomi. Ketika kita membicarakan tentang industri bisnis ekonomi digital, tentu tidak semata mata melihat dari satu sisi yaitu transaksi jual beli. Namun ada sektor lain juga yang secara langsung terlibat di dalamnya seperti industri logistik, perbankan mapun provider telekomunikasi.

Hal ini lah yang menjadikan industri ini perlu terus dijaga dan dikembangkan agar tetap mampu mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Wajar saja jika Menteri Keuangan Sri Mulyani berkomitmen penuh menjadikan digitalisasi sebagai transformasi dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dengan menciptakan berbagai model ekosistem mulai dari regulasi, infrastruktur digital hingga literasi terhadap ekonomi digital.

Apalagi jika dilihat dari potensi yang ada Indonesia merupakan salah satu negara dengan perkembangan ekonomi digital tertinggi di ASEAN pada tahun 2025 dengan nilai US$ 124 miliar.

Itu artinya, Indonesia memiliki peluang yang besar untuk menjadikan ekonomi digital sebagai roda pendorong ekonomi. Oleh karena itu perlu adanya peningkatan literasi dan keterampilan SDM (sumber daya manusia) mengenai digitalisasi sebagai respon dalam memasuki era industri 4.0 melalui pendidikan formal, pelatihan ataupun pendidikan non formal lainnya.

Peran Generasi Milenial

Tidak dapat dipungkiri bahwa generasi muda merupakan generasi masa depan bangsa sebagai agent of change bagi suatu negara menuju negara yang kompetitif. Hal ini tentu saja menghadapi era perubahan sekarang dituntut peran sumber daya manusia yang mampu menghadapi dinamika persaingan.

Kita sebagai generasi muda sudah sepatutnya turut andil dalam menangkap peluang bisnis dari era perubahan tersebut. Sebagai generasi yang produktif tentunya memiliki peluang kemampuan yang sangat besar juga dalam menangkap literasi teknologi dan bisnis menjadi kesempatan untuk berwirausaha.

Generasi muda yang berwirausaha dengan mengandalkan pada kemampuan penguasaan teknologi dapat dikatakan sebagai entrepreneur yang berkarakter modern dan dinamis. Hal ini lantaran mereka mampu mengubah nilai sumber daya, tenaga kerja, dan faktor produksi lainnya menjadi output yang lebih besar dari sebelumnya melalui perubahan inovasi dan cara-cara baru secara efektif dan efisien dengan mengikuti era yang ada.

Karena itu technopreneur inilah yang saat ini dibutuhkan negara karena kontribusinya bagi kemajuan bangsa. Tentunya kontribusi tersebut bukan hanya dilihat terhadap pertumbuhan ekonomi saja, melainkan peran pentingnya dalam membantu pemerintah untuk memperbaiki kualitas hidup masyarakat.

Oleh karena negara dapat dikatakan maju dan berhasil adalah mereka yang memiliki sumber daya manusia yang berkualitas dalam menghasilkan output yang bernilai.

JOINT INTERNATIONAL SUMMER CAMP : Global Youth Action

Universitas Pancasakti Tegal in collaboration with Universitas KADIRI, Universitas IVET Semarang, and STIE Widya Gama Lumajang

Anomali Pola Inflasi dalam Satu Tahun Pandemi Covid-19 Di Indonesia

TEGAL – Tanggal 2 Maret 2020 yang lalu, Presiden Joko Widodo pertama kali mengumumkan secara resmi ada warga negara Indonesia terjangkit virus corona. Ini berarti sudah satu tahun lebih virus corona (Covid-19) mewabah di Indonesia. Pandemi Covid-19 ini kemudian berimbas negatif terhadap banyak sektor. Di sektor ekonomi, misalnya, selama satu tahun terakhir terjadi penurunan daya beli masyarakat karena pendapatannya menurun.

Penurunan pendapatan ini salah satunya karena pemutusan hubungan kerja (PHK) sebagai dampak pandemi Covid-19. Dari sisi perusahaan, kondisi ini berakibat pada melemahnya permintaan barang dan jasa sehingga harga dan produksi menurun. Penurunan harga ini kemudian berimbas pada penurunan inflasi.

Terkait inflasi, Pandemi Covid-19 mengakibatkan pola inflasi mengalami anomali. Di bulan Maret 2020, bulan awal munculnya virus corona di Indonesia, inflasi tercatat 0,10% mom (secara bulanan) dan 2,96% yoy (secara tahunan). Angka inflasi ini kemudian turun terus menerus di bulan April dan Mei 2020, kemudian naik lagi pada bulan Juni 2020. Di bulan April 2020, dimana bertepatan dengan bulan Ramadhan, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat penurunan angka inflasi sebesar 0,08% secara bulanan dan 2,67% secara tahunan.

Angka ini tidak biasa untuk kondisi bulan Ramadhan, dimana jauh lebih rendah dibandingkan dengan inflasi Ramadhan di 17 tahun terakhir yang tercatat 1,21%. Di bulan Mei 2020, dimana bertepatan dengan hari raya Idul Fitri, angka inflasi tercatat menurun lagi sebesar 0,07% secara bulanan atau sebesar 2,19% secara tahunan. Inflasi di bulan Mei 2020 juga dianggap sangat tidak lazim karena jauh lebih rendah dibandingkan saat Idul Fitri tahun lalu (0,55%). Angka inflasi kemudian naik tipis di bulan Juni 2020 (1 bulan setelah Ramadhan dan hari raya Idul Fitri) yaitu sebesar 0,18% secara bulanan dan sebesar 1,96% secara tahunan. Pola inflasi bulan Juni ini juga mengalami anomali.

Hal ini karena pada tahun-tahun sebelumnya inflasi biasanya akan menurun sebulan setelah Ramadhan dan hari raya Idul Fitri. Namun pada tahun 2020, inflasi justru mengalami kenaikan.
Pada tiga bulan berikutnya, yaitu Juli, Agustus dan September 2020, angka inflasi tercatat negatif atau mengalami deflasi. Di Juli 2020 BPS mencatat angka inflasi minus 0,1% secara bulanan atau 1,54% secara tahunan. Angka ini jauh di bawah posisi inflasi Juli 2019 (0,18% mom). Di Agustus 2020, angka inflasi turun lebih jauh lagi menjadi minus 0,05% secara bulanan atau 1,32% secara tahunan.

Angka inflasi tahunan tersebut merupakan angka terendah dalam 20 tahun terakhir sejak Mei 2000. Di September 2020, BPS mencatat angka inflasi minus 0,05% secara bulanan dan 1,42% secara tahunan. Angka deflasi di bulan September tersebut sama dengan Agustus 2020 tetapi lebih rendah dari deflasi September 2019 (-0,27%).
Untuk tiga bulan terakhir di tahun 2020, yaitu Oktober, November dan Desember, angka inflasi tercatat kembali positif dengan tren menaik.

BPS mencatat inflasi secara bulanan di ketiga bulan tersebut berturut-turut sebesar sebesar 0,07%, 0,28% dan 0,45% dan secara tahunan masing-masing sebesar 1,44%, 1,59% dan 1,68%. Sedangkan untuk tiga bulan pertama tahun 2021, angka inflasi justru menunjukan tren penurunan. Angka inflasi bulanan untuk Januari, Februari dan Maret 2021 berturut-turut mencatat 0,26%, 0,10% dan 0,08%, sedangkan secara tahunan tercatat masing-masing 1,55%, 1,38 persen dan 1,37%.

Mendasarkan angka inflasi tahunan untuk Maret 2021 tersebut tampak angka inflasi masih di di bawah target pemerintah yaitu kisaran 3±1%. Rendahnya tingkat inflasi mencerminkan rendahnya daya beli masyarakat. Secara makro kondisi ini akan berdampak pada rendahnya konsumsi yang berlanjut pada penurunan pertumbuhan ekonomi.(*).

Oleh : Abdulloh Mubarok
(Dosen Tetap Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pancasakti Tegal)

Short Course Digital Marekting

Tidak akan ada lagi batasan mahasiswa untuk belajar hal ini merupakan tag line dari Kredensial Mikro Mahasiswa Indonesia atau disingkat dengan KMMI. KMMI merupakan salaha satu platform dari course atau kursus yang memberikan akses mahasiswa untuk belajar dari kampus manapun di Indonesia.

Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pancasakti Tegal berkontribusi dalam kegiatan tersebut. Untuk pendaftaran mahasiswa dapat langsung mengunjungi link https://kmmi.kemdikbud.go.id/mhs untuk mulai mendaftar kursus ini.

FEB UPS Tegal dengan kursus Digital Marketing . Kursus Digital Marketing merupakan kegiatan pelatihan bersertifikat guna meningkatkan wawasan dan keterampilan mahasiswa yang berkaitan dengan pemasaran produk melalui Digital Marketing. Adanya program course ini mempunyai banyak keunggulan karena dengan belajar membuat Instagram bisnis sangat menunjang bagi mahasiswa dapat mengembangkan usaha bisnis atau siap dalam menghadapi tantangan dunia kerja karena memperoleh ilmu keterampilan yang menunjang dan bisa diterapkan di dunia industri. Course
Digital Marketing secara umum akan mempelajari tentang strategi dan perencanaan pemasaran, menganalisis pasar, bagaimana menciptakan ekuitas merek, hingga bagaimana memasuki pasar global. Course Digital Marketing juga memberikan praktikum secara langsung yang berkaitan dengan advertiser mastermind, content marketing, organic marketing, dan paid marketing.

Pengembangan Usaha Dengan Sedekah

Banyak usaha yang tidak bisa melakukan penjualan karena ketakutan tertular covid-19. Jalan – jalanpun kena sekat pada perbatasan wilayah, dan mengakibatkan banyak usaha yang tidak bisa beroperasi.

Bagaimana dunia usaha mau hidup? Orangnya takut keluar rumah, bagaimana cara mengembangan usahanya? Maka manusia tidak usah menyesal atau takut, dunia ini sebenarnya mengalami proses globalisasi.

Dunia ini sedang mengalami proses global maka manusia harus merubahnya, baik penguasaan teknologi maupun perbuatannya. Artinya manusia harus menyadari biar penjualan menjadi ramai dan harus menguasai teknologi digital, dan anjuran Allah S.W.T. dalam surat An-Nisa ayat114, Allah S.W.T. berfirman yang artinya : Tidak ada kebaikan dari banyak pembicaraan rahasia mereka, kecuali pembicaraan rahasia dari orang yang menyuruh (orang) bersedekah, atau berbuat kebaikan, atau mengadakan perdamaian di antara manusia.

Selanjutnya dalam Al Quran Surat Al Baqarah ayat 261 yang artinya : “Perumpaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai. Pada tiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui.”

Dan dalam hadist. Sedekah merupakan salah satu amal jariyah yang pahalanya tidak akan pernah putus, bahkan saat kita sudah meninggal. Rasulullah bersabda, “Jauhilah neraka walupun hanya dengan (sedekah) sebiji kurma, kalau kamu tidak menemukan sesuatu, maka dengan omongan yang baik.” (HR. Ahmad, Bukhari dan Muslim.)

Jadi Allah S.W.T. berserta rosulnya menyuruh umat muslim untuk senantiasa berbuat kebaikan salah satunya dengan bersedekah. Sedekah dalam ajaran Islam dibagi menjadi beberapa macam, sebagai berikut:
Sedekah Materi.

Sedekah ini bisa berupa uang, barang, makanan, minuman, atau bahkan takjil untuk berbuka puasa kepada orang-orang yang berpuasa. Pahala bagi orang yang menjalankan sedekah materi sama besarnya dengan pahala orang yang diberikan sedekah, termasuk sedekah kepada orang berpuasa. “Siapa yang memberi makan berbuka puasa orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang itu tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa sama sekali.” (H.R. At-Tirmidzi).

Contohnya :
Dalam bulan Ramadhan banyak kelompok – kelompok yang membagikan takjil untuk berbuka puasa dan nasi berserta lauk pauknya untuk berbuka puasa. Dari salah satu kelompok tadi, ada yang berhasil mengembangkan usahanya mendirikan program baru program study Bisnis Digital.

Sedekah Jariyah
sedekah jariyah yaitu menyedekahkan hartanya untuk membangun masjid, pesantren, ilmu pengetahuan, ataupun fasilitas-fasilitas umum lain yang menjadi manfaat bagi banyak orang.
Terkait sedekah jariyah ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Jika manusia meninggal dunia, maka terputus amalnya. Kecuali tiga perkara, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.” (H.R. At-Tirmidzi).

Contoh sedekah jariyah:
Membangun masjid. Agar semua orang ingat kepada yang maha kuasa untuk sholat berjamaah di masjid karna tujuan manusia diciptakan oleh Allah S.W.T. untuk menyembah Allah S.W.T. Seperti dalam surat adzuriyat ayat 56, Allah S.W.T. berfirman, yang artinya : Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah kepada-Ku.

Sedekah Non Materi
sedekah non materi dalam Islam, yaitu sedekah yang dilakukan seseorang tanpa mengeluarkan materi, melainkan dalam bentuk lain seperti tenaga, pikiran, nasihat, atau sebuah senyuman tulus. Senyuman tulus kepada sesama Muslimin merupakan salah satu ibadah sedekah non materi yang pahalanya sangat besar, seperti sabda Rasululllah:
“Senyummu kepada saudaramu adalah sedekah, perintahmu untuk berbuat baik dan mencegah kemungkaran adalah sedekah, petunjukmu kepada seseorang yang tersesat adalah sedekah, menuntunmu kepada orang yang kabur penglihatannya adalah sedekah, kamu menyingkirkan batu, duri, dan tulang dari jalan (yang dapat membahayakan pengguna jalan) adalah sedekah, dan engkau menuangkan air dari embermu ke ember saudaramu adalah sedekah.” (H.R. At-Tirmidzi).

Contoh sedekah non materi:
Yang belum pernah dilakukan di kalangan akademik yaitu pembukan kelas online dan pembukaan kelas offline.

Kelas online
Jumlah kelas online untuk satu kelasnya bisa 50-100 orang.
Kelas offline
Sedangkan kelas offline dibatasi dari 15-20 orang.(*).

Oleh: Sumarno, S.E. M.Si.( Dosen Fakultas Ekonomi Dan Bisnis UPS Tegal).

Webinar Kontroversi PPN Sembako & Sekolah. Fakta dan Realitanya?

Untuk mengikuti acara tersebut anda dapat langsung mengisi pendaftaran di https://bit.ly/DaftarWebinarPPN

Acara tersebut dihadiri lebih dari ratusan peserta dari berbagai profesi.

TANTANGAN & PELUANG PRODI BISNIS DIGITAL ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0

Oleh : Faiz irsyad Prasetyo, S.E., M.M., CPHRM.

Seiring berkembangnya zaman, revolusi industri 4.0 menjadi sebuah tantangan dan peluang. Saat ini perkembangan teknologi begitu pesat. Orang semakin dimudahkan untuk menjalani kehidupan sehari-hari. Semua bisa terjadi karena adanya teknologi dan upaya digitalisasi di berbagai sektor. Upaya untuk mengikuti zaman membuat industri didorong untuk menjadi lebih kreatif untuk memanjakan keinginan dan kebutuhan para stakeholder.

Revolusi industri sejatinya berubah seiring zaman, dimulai dari industri 1.0, 2.0, 3.0 hingga industri 4.0. Fase industri merupakan real change dari perubahan yang ada. Industri 1.0 misalnya hanya berfokus pada mekanisme produksi untuk menunjang efektifitas dan efisiensi aktivitas manusia. Industri 2.0 berfokus pada produksi masal dan standarisasi mutu. Industri 3.0 dicirikan dengan penyesuaian masal dan fleksibilitas manufaktur berbasis otomasi dan robot. Selanjutnya industri 4.0 saat ini hadir menggantikan industri 3.0 yang ditandai cyber fisik dan kolaborasi manufaktur. Istilah industri 4.0 berasal dari sebuah proyek yang diperkasai oleh pemerintah Jerman untuk mempromosikan komputerisasi manufaktur. (Hermann et al, 2015; Irianto, 2017).

Menurut Zesulka et al (2016) revolusi industri 4.0 digunakan pada tiga faktor yaitu: 1) digitalisasi dan interaksi ekonomi dengan teknik sederhana menuju jaringan ekonomi dengan teknik kompleks; 2) digitalisasi produk dan layanan; dan 3) model pasar baru. Oleh karena itu revolusi digital dan era disrupsi teknologi adalah istilah lain dari revolusi industri 4.0. Disebut revolusi digital karena terjadinya proliferasi komputer dan otomatisasi pencatatan di semua bidang. Industri 4.0 dikatakan era disrupsi teknologi karena otomatisasi dan konektivitas di sebuah bidang akan membuat pergerakan dunia industri dan persaingan kerja menjadi tidak linear. Perubahannya sangat cepat, fundamental dengan mengacak-acak pola tatanan lama untuk menciptakan tatanan baru.

Saat ini dunia pendidikan ditantang untuk memfasilitasi perubahan revolusi industri 4.0 agar tepat guna. Dunia pendidikan sejatinya harus beriringan dengan dunia industri, keduanya dituntut untuk menciptakan “link and match” yang tepat sasaran. Link and match memang tidak hanya menguntungkan dunia pendidikan yang menjadi lebih mudah menyesuaikan diri dengan industri. Sebaliknya, industri juga merasakan hal yang sama dengan mendapatkan tenaga kerja yang andal. Untuk itu perguruan tinggi di tuntut untuk mencetak generasi bangsa yang berdaya saing tinggi berbasis revolusi industri 4.0.

Hal ini yang mendorong Universitas Pancasakti (UPS) Tegal untuk membuka program studi yang tidak konservatif lagi, melainkan harus mengikuti perkembangan zaman yaitu program studi bisnis digital. Program studi bisnis digital merupakan sebuah program studi baru yang ada di bawah naungan Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Pancasakti Tegal. Prodi bisnis digital ini menggabungkan beberapa ilmu sekaligus, perpaduan antara mata kuliah ekonomi, manajemen, bisnis dan teknologi informasi (big data, artificial intelegence, algoritma).  Pemasaran daring baik di media sosial maupun di sistem digital lainnya juga dipelajari dalam prodi ini. Dasar-dasar teori yang berkaitan dengan bisnis secara umum seperti pengantar bisnis, hukum bisnis, pengantar manajemen bisnis, manajemen strategik, perilaku konsumen hingga kewirausahaan dan inovasi termasuk mata kuliah wajib.

Menurut Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) prodi bisnis digital merupakan jurusan yang banyak dibutuhkan di masa mendatang. Selanjutnya McKinsey & Company (2018) menyebutkan beberapa fakta lain yang mendukung perkembangan ekonomi digital di Indonesia antara lain sebagai berikut: 1) Indonesia diperkirakan memiliki pasar perdagangan online sebesar 5 Miliar untuk perdagangan online formal, dan lebih dari 3 Miliar untuk perdagangan online informal; 2) Indonesia diperkirakan memiliki 30 juta pembeli online pada tahun 2017 dengan total populasi sekitar 260 juta; 3) Pada tahun 2025, ekonomi digital di Indonesia diperkirakan akan menciptakan 3.7 juta pekerjaan tambahan; 4) Menghasilkan pertumbuhan pendapatan hingga 80% lebih tinggi untuk usaha kecil dan menengah (UKM); 5) Memberikan tambahan 2% per tahun dalam pertumbuhan PDB dengan meningkatkan tingkat penetrasi broadband dan penggunaan teknologi digital oleh UKM. Dengan fenomena inilah potensi pasar di Indonesia harus bisa dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Kombinasi dari sisi potensi bisnis dan digitalisasi menjadi bukti nyata bahwa prodi bisnis digital menjadi hal yang penting dan menjadi salah satu pilihan tepat dalam memilih program studi.

Jika melihat perkembangan teknologi digital saat ini, tentunya dapat melihat bahwa prospek karir dan peluang dari program studi bisnis digital sangatlah luas. Tentunya telah menjadi saksi bahwa penggunaan e-commerce di tanah air juga terus mengalami peningkatan. Saat ini, keahlian di bidang Bisnis Digital sangat dicari oleh perusahaan dan sangat menjanjikan untuk mengembangkan bisnis individu. Dengan mengambil program studi bisnis digital, lulusan dapat bekerja di berbagai sektor seperti perusahaan start up, perbankan, financial technology dan diberbagai posisi jabatan baik analisis data, analisis sistem, pengembang e-commerce bahkan bisa menjadi wirausaha berbasis teknologi informasi.

Dalam program studi ini proses pembelajaranya tidak hanya berfokus pada teori bisnis digital saja, melainkan penguatan kemampuan mengenal dunia bisnis secara langsung, baik mengundang para praktisi bisnis digital maupun Field Trip ke perusahaan start up secara langsung dan juga program magang. Tentunya hal ini menjadi tantangan dan peluang yang sangat besar bagi prodi bisnis digital khususnya di Universitas Pancasakti Tegal untuk berkontribusi dan mencetak persaingan di Era Revolusi Industri 4.0.

Penerapan PSAK 71 Pada Perbankan di Masa Pandemi Covid -19

PSAK atau yang juga dikenal sebagai pernyataan standar akuntansi keuangan merupakan sekumpulan aturan yang mengatur mengenai tata cara penghitungan, pengklasifikasian, serta pencatatan akuntansi di Indonesia. Pada tahun 2017, Dewan Standar Akuntansi Keuangan (DSAK) telah merilis tiga Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) baru yaitu PSAK 71, 72, dan 73 yang mulai diimplementasikan / efektif mulai pada tahun 2020 ini.

Dikeluarkannya PSAK yang baru ini merupakan bagian dari usaha otoritas untuk mengadopsisistem dari International Financial Reporting Standards (IFRS) yang dikeluarkan oleh International Accounting Standard Board (IASB). Poin-poin yang diatur oleh ketiga PSAK yang baru ini salah satunya PSAK 71 yang mengatur mengenai instrumen keuangan. PSAK 71 memandatkan korporasi menyediakan pencadangan sejak awal periode kredit. Kini, dasar pencadangan adalah ekspektasi kerugian kredit (expected credit loss) yang didasarkan berbagai faktor, termasuk di dalamnya proyeksi ekonomi di masa mendatang.

Berdasarkan standar akuntansi baru ini, korporasi harus menyediakan cadangan kerugian atas penurunan nilai kredit (CKPN) untuk semua kategori kredit atau pinjaman, baik itu yang berstatus lancar (performing), ragu-ragu (underperforming), maupun macet (non-performing). Misalnya pada kredit lancar, korporasi harus menyediakan CKPN berdasarkan ekspektasi kerugian kredit dalam 12 bulan mendatang (Brama, 2019). Oleh sebab itu, PSAK 71 mengharuskan perbankan memiliki cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) yang lebih besar dibanding dengan ketentuan regulasi sebelumnya. Hal ini dikarenakan PSAK 71 mewajibkan perusahaan untuk menyediakan pencadangan sejak awal periode kredit.

Penerapan PSAK 71 dimulai sejak tahun 2020. Perbankan Indonesia telah menyiapkan penambahan CKPN agar sesuai dengan regulasi PSAK 71. Direktur Keuangan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), Haru Koesmahargyo, memperkirakan CKPN yang diperlukan BRI mencapai Rp10 triliun. Angka ini lebih besar dibandingkan perkiraan yang disampaikan beliau dalam paparan kuartal II-2019 lalu yang memperkirakan BRI memerlukan tambahan pencadangan hingga Rp8 triliun.

Bank BUKU 4 lainnya, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) membutuhkan pencadangan tambahan sekitar Rp 5 triliun hingga Rp 6 triliun. Selain itu, PT Bank Panin Indonesia Tbk (PNBN) meningkatkan pencadangannya Rp 362 miliar hingga pada akhir tahun 2019 bisa mencapai Rp 4,19 triliun (Sitanggang, L. M. S. 2020a). Oleh karena itu, PSAK 71 membuat CKPN perbankan di Indonesia meningkat dengan tingkat yang bervariasi.

Bagaimana Penerapan PSAK 71 oleh Perbankan di Tengah Gempuran Pandemi Covid-19?

Di samping penerapan PSAK 71, perbankan juga menghadapi permasalahan rumit lainnya, yaitu pandemi COVID-19. Pandemi ini mengakibatkan perekonomian secara keseluruhan melambat.

Berdasarkan Rilis BPS mengenai Data Pertumbuhan Ekonomi Triwulan II 2020 melalui kanal youtube BPS, pertumbuhan ekonomi Indonesia secara year on year (yoy) sebesar minus 5,32%. Kontraksi ini menjadi pertumbuhan ekonomi terendah sejak krisis tahun 1998. Hal ini disebabkan menurunnya PDB Indonesia hampir pada seluruh sektor.

Pandemi COVID-19 membuat sektor usaha menjadi semakin sulit dalam mempertahankan bisnisnya, secara tidak langsung mengakibatkan sulitnya para debitur perbankan dalam membayar hutang-hutangnya. Oleh karena itu, OJK memberikan relaksasi kredit usaha mikro dan kecil untuk nilai dibawah Rp10 miliar, baik kredit maupun pembiayaan yang diberikan oleh bank atau industri keuangan non-bank kepada debitur.

Debitur akan diberikan fasilitas penundaan sampai dengan 1 (satu) tahun serta penurunan bunga kredit. Pemerintah juga memberikan kelonggaran bagi perbankan untuk tidak meningkatkan CKPN perusahaan. Namun, hal ini hanya berlaku bagi debitur yang kinerjanya baik dan saat ini terkena dampak pandemi. Apabila debitur diperkirakan tidak dapat pulih dalam menghadapi pandemi, maka bank diwajibkan untuk membentuk CKPN.

Hal ini dilakukan berdasarkan peraturan yang tercantum dalam POJK No.11/POJK.03/2020 tentang Stimulus Perekonomian Nasional sebagai Kebijakan Countercyclical (Otoritas Jasa Keuangan, 2020).
Dampak rasio keuangan perbankan Per 20 Juli 2020, OJK mencatat 6,73 juta debitur telah memanfaatkan restrukturisasi kredit (Putra, 2020).

Walaupun POJK No. 11/POJK.03/2020 telah diterapkan, CKPN perbankan tetap meningkat secara keseluruhan. Pada Februari 2020, perbankan secara agregat tercatat telah membentuk CKPN hingga mencapai Rp248,92 triliun. Kemudian pada bulan Mei 2020, CKPN perbankan meningkat sebesar Rp 21,24 triliun atau naik 8,53% menjadi Rp270,16 triliun. Secara garis besar, restrukturisasi kredit membuat CKPN perbankan secara umum meningkat. Peningkatan CKPN menimbulkan dampak yang beragam.

Peningkatan CKPN disebabkan oleh kredit berisiko (Loan at Risk) yang meningkat cukup tajam. Di sisi lain, coverage CKPN, rasio permodalan perbankan (CAR), serta rasio CKPN terhadap total kredit justru tidak berubah signifikan. PSAK 71 membuat CKPN perbankan secara umum meningkat. Adanya covid-19 membuat perbankan menghadapi permasalahan yang semakin rumit, sehingga OJK memberikan restrukturisasi serta kelonggaran CKPN bagi perbankan.

Hal itu cukup meringankan beban perbankan, tetapi CKPN tetap meningkat. Peningkatan ini sejalan dengan peningkatan kredit berisiko (Loan at Risk). Hal sebaliknya terjadi pada coverage CKPN, rasio permodalan perbankan (CAR), serta rasio CKPN terhadap total kredit hanya mengalami perubahan yang minim. Maka dari itu, perbankan diharapkan lebih selektif dalam memberikan kredit serta memberikan keringanan bagi debitur yang benar-benar terdampak Covid-19 di tahun 2021.(*).

Oleh: Eva Anggra Yunita,SE.M,Acc.Ak.
Dosen Fakultas Ekonomi ddan Bisnis UPS Tegal

LEAD AND MANAGE ORGANIZATION CULTURE CHANGE OF BUSINESS ORGANIZATION IN COVID ERA

Hari Selasa, 1 Juli 2021 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pancasakti Tegal telah menyelenggarakan  Webinar dengan topik yang menarik yaitu LEAD AND MANAGE ORGANIZATION CULTURE CHANGE OF BUSINESS ORGANIZATION IN COVID ERA kegiatan webinar ini bekerjasama dengan Fakultas Bisnis Universitas Kristen Maranatha Bandung. Webinar dihadiri hampir 300 orang peserta, peserta terdiri dari mahasiswa, umum dan juga dosen.
Webinar tersebut menghadirkan dua pembicara yakni yang pertama adalah seorang Presiden komisaris PT GISTEX GARMENT Indonesia yang juga Dosen Prodi Magister Akuntansi FB Univ Kristen Maranatha, Bapak Johannes Buntoro Darmasetiawan, Ir, MSCE, MBA, MA, PhD. Pembicara kedua adalah Ibu Yantie Puji Astuti SE., M.Si., CMA, beliau adalah Praktisi dan akademisi Universitas Pancasakti Tegal.
Opening Speech atau sambutan pada webinar tersebut dari Dekan Fakultas Bisnis Universitas Kristen Maranatha yaitu Bapak Tan Ming Kuang., PhD, Ak, CA dan juga Ibu Dr. Dien Noviany Rahmatika, SE., MM., Ak., Ak selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pancasakti Tegal, keduanya berharap webinar berjalan lancar dan bermanfaat mengingat topik yang diusung sesuai dengan kondisi di Era Pandemi Covid-19 sekarang. Webinar berlangsung dengan diskusi yang menarik dengan dipandu oleh moderator dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pancasakti Tegal, yaitu Ibu Eva Anggra Yunita SE., M.Acc, Ak.
Pembicara memaparkan materi yang sangat menarik, bagaimana Pandemi Covid-19 telah mengubah banyak hal termasuk sektor bisnis di Tanah Air Indonesia. Bapak Johannes Buntoro Darmasetiawan memaparkan secara teoritis bagaimana memimpin dan mengatur organisasi di masa Pandemi ini dengan segala keterbatasan. Ibu Yantie Puji Astuti juga memaparkan materi yang tidak kalah menarik yaitu lead and manage UMKM di masa Pandemi Covid-19, dengan basis penelitian.

Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pancasakti Tegal terus mengupayakan peningkatan akademiknya dengan sering melakukan Webinar dikondisi Covid-19 saat ini, peningkatan tidak hanya dari sisi Akademik tetapi juga peningkatan terhadap penambahan Prodi. Bisnis Digital. Program studi Bisnis Digital memiliki kekuatan pada pembelajaran bisnis dengan menggunakan teknologi digital. Prodi ini dikembangkan untuk mempersiapkan sumber daya manusia di bidang penguasaan start up digital, market place, big data, hingga artificial intelligence. Program studi ini merupakan Prodi yang pertama wilayah Pantura.

Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pancasakti Tegal telah membuka Gelombang II dari Tgl 1 Juli 2021 sampai dengan Tgl. 31 Agustus 2021.