TANTANGAN & PELUANG PRODI BISNIS DIGITAL ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0

Oleh : Faiz irsyad Prasetyo, S.E., M.M., CPHRM.

Seiring berkembangnya zaman, revolusi industri 4.0 menjadi sebuah tantangan dan peluang. Saat ini perkembangan teknologi begitu pesat. Orang semakin dimudahkan untuk menjalani kehidupan sehari-hari. Semua bisa terjadi karena adanya teknologi dan upaya digitalisasi di berbagai sektor. Upaya untuk mengikuti zaman membuat industri didorong untuk menjadi lebih kreatif untuk memanjakan keinginan dan kebutuhan para stakeholder.

Revolusi industri sejatinya berubah seiring zaman, dimulai dari industri 1.0, 2.0, 3.0 hingga industri 4.0. Fase industri merupakan real change dari perubahan yang ada. Industri 1.0 misalnya hanya berfokus pada mekanisme produksi untuk menunjang efektifitas dan efisiensi aktivitas manusia. Industri 2.0 berfokus pada produksi masal dan standarisasi mutu. Industri 3.0 dicirikan dengan penyesuaian masal dan fleksibilitas manufaktur berbasis otomasi dan robot. Selanjutnya industri 4.0 saat ini hadir menggantikan industri 3.0 yang ditandai cyber fisik dan kolaborasi manufaktur. Istilah industri 4.0 berasal dari sebuah proyek yang diperkasai oleh pemerintah Jerman untuk mempromosikan komputerisasi manufaktur. (Hermann et al, 2015; Irianto, 2017).

Menurut Zesulka et al (2016) revolusi industri 4.0 digunakan pada tiga faktor yaitu: 1) digitalisasi dan interaksi ekonomi dengan teknik sederhana menuju jaringan ekonomi dengan teknik kompleks; 2) digitalisasi produk dan layanan; dan 3) model pasar baru. Oleh karena itu revolusi digital dan era disrupsi teknologi adalah istilah lain dari revolusi industri 4.0. Disebut revolusi digital karena terjadinya proliferasi komputer dan otomatisasi pencatatan di semua bidang. Industri 4.0 dikatakan era disrupsi teknologi karena otomatisasi dan konektivitas di sebuah bidang akan membuat pergerakan dunia industri dan persaingan kerja menjadi tidak linear. Perubahannya sangat cepat, fundamental dengan mengacak-acak pola tatanan lama untuk menciptakan tatanan baru.

Saat ini dunia pendidikan ditantang untuk memfasilitasi perubahan revolusi industri 4.0 agar tepat guna. Dunia pendidikan sejatinya harus beriringan dengan dunia industri, keduanya dituntut untuk menciptakan “link and match” yang tepat sasaran. Link and match memang tidak hanya menguntungkan dunia pendidikan yang menjadi lebih mudah menyesuaikan diri dengan industri. Sebaliknya, industri juga merasakan hal yang sama dengan mendapatkan tenaga kerja yang andal. Untuk itu perguruan tinggi di tuntut untuk mencetak generasi bangsa yang berdaya saing tinggi berbasis revolusi industri 4.0.

Hal ini yang mendorong Universitas Pancasakti (UPS) Tegal untuk membuka program studi yang tidak konservatif lagi, melainkan harus mengikuti perkembangan zaman yaitu program studi bisnis digital. Program studi bisnis digital merupakan sebuah program studi baru yang ada di bawah naungan Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Pancasakti Tegal. Prodi bisnis digital ini menggabungkan beberapa ilmu sekaligus, perpaduan antara mata kuliah ekonomi, manajemen, bisnis dan teknologi informasi (big data, artificial intelegence, algoritma).  Pemasaran daring baik di media sosial maupun di sistem digital lainnya juga dipelajari dalam prodi ini. Dasar-dasar teori yang berkaitan dengan bisnis secara umum seperti pengantar bisnis, hukum bisnis, pengantar manajemen bisnis, manajemen strategik, perilaku konsumen hingga kewirausahaan dan inovasi termasuk mata kuliah wajib.

Menurut Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) prodi bisnis digital merupakan jurusan yang banyak dibutuhkan di masa mendatang. Selanjutnya McKinsey & Company (2018) menyebutkan beberapa fakta lain yang mendukung perkembangan ekonomi digital di Indonesia antara lain sebagai berikut: 1) Indonesia diperkirakan memiliki pasar perdagangan online sebesar 5 Miliar untuk perdagangan online formal, dan lebih dari 3 Miliar untuk perdagangan online informal; 2) Indonesia diperkirakan memiliki 30 juta pembeli online pada tahun 2017 dengan total populasi sekitar 260 juta; 3) Pada tahun 2025, ekonomi digital di Indonesia diperkirakan akan menciptakan 3.7 juta pekerjaan tambahan; 4) Menghasilkan pertumbuhan pendapatan hingga 80% lebih tinggi untuk usaha kecil dan menengah (UKM); 5) Memberikan tambahan 2% per tahun dalam pertumbuhan PDB dengan meningkatkan tingkat penetrasi broadband dan penggunaan teknologi digital oleh UKM. Dengan fenomena inilah potensi pasar di Indonesia harus bisa dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Kombinasi dari sisi potensi bisnis dan digitalisasi menjadi bukti nyata bahwa prodi bisnis digital menjadi hal yang penting dan menjadi salah satu pilihan tepat dalam memilih program studi.

Jika melihat perkembangan teknologi digital saat ini, tentunya dapat melihat bahwa prospek karir dan peluang dari program studi bisnis digital sangatlah luas. Tentunya telah menjadi saksi bahwa penggunaan e-commerce di tanah air juga terus mengalami peningkatan. Saat ini, keahlian di bidang Bisnis Digital sangat dicari oleh perusahaan dan sangat menjanjikan untuk mengembangkan bisnis individu. Dengan mengambil program studi bisnis digital, lulusan dapat bekerja di berbagai sektor seperti perusahaan start up, perbankan, financial technology dan diberbagai posisi jabatan baik analisis data, analisis sistem, pengembang e-commerce bahkan bisa menjadi wirausaha berbasis teknologi informasi.

Dalam program studi ini proses pembelajaranya tidak hanya berfokus pada teori bisnis digital saja, melainkan penguatan kemampuan mengenal dunia bisnis secara langsung, baik mengundang para praktisi bisnis digital maupun Field Trip ke perusahaan start up secara langsung dan juga program magang. Tentunya hal ini menjadi tantangan dan peluang yang sangat besar bagi prodi bisnis digital khususnya di Universitas Pancasakti Tegal untuk berkontribusi dan mencetak persaingan di Era Revolusi Industri 4.0.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

eight + one =