Memetik Hikmah Menggantung Asa di tengah Pandemi Global

Ketika pertama kali covid-19 ini merebak di kota Wuhan, China,  banyak masyarakat dunia yang tidak menyangka bahwa virus ini akan menjadi pandemi global. Italia sebagai negara yang sangat menjunjung tinggi kebersihan dan bahkan biaya kesehatan diberikan gratis bagi warganya justru menjadi negara dengan korban terinfeksi dan meninggal terbesar melebihi China sendiri sebagai negara asal mula virus ini mewabah. Sekarang di Indonesia sendiri sejak tanggal 30 Desember 2019 sampai dengan sekaraang sudah terdapat enampuluh dua ribuan kasus orang yang diperiksa dengan  sembilan ribu limaratusan kasus positif, seribu dua ratusan sembuh, dan delapan ratusan meninggal. DKI Jakarta merupakan propinsi penyumbang angka tertinggi dengan eempat ribuan kasus dengan angka kematian sebesar tiga ratusan lebih kasus.  Tidak dapat dikatakan jumlah yang sedikit meskipun menurut data yang ada tingkat kematian akibat covid-19 ini tidak setinggi virus-virus lain yang pernah menjangkit seperti SARS dan MERS.

Covid-19 ini sudah tidak bisa lagi dianggap remeh atau bahkan kita sepelekan seperti saat virus ini baru melanda di negara asalnya China. Ketika itu banyak masyarakat Indonesia yang dengan santainya menjadikan virus ini sebagai bahan candaan dengan banyak beredarnya meme di media sosial yang intinya virus ini tidak akan bisa hidup di Indonesia karena iklim tropis dan masyarakat Indonesia yang sudah dianggap kebal akibat dari kebiasaan hidup yang tidak  higienis. Kondisi sekarang kemudian berbalik, Indonesia dari Sabang sampai sudah terjangkit oleh virus ini, banyak masyarakat merasa panik yang pada akhirnya justru menurunkan sistem imun tubuh dan memudahkan virus untuk menginfeksi. Kepanikan masyarakat juga kemudian menjadi masalah baru, yaitu adanya aksi borong masker dan kebutuhan pokok menyebabkan stok langka sehingga memicu kenaikan harga menjadi tidak wajar.

Selayaknya umat beragama, kita harus tetap percaya kepada ketetapan Allah SWT, Tuhan Penguasa alam semesta, bahwa semua yang kita alami ini merupakan kehendak-Nya, terlepas dari adanya rumor yang memberitakan bahwa adanya pandemi ini merupakan peristiwa yang sengaja diciptakan oleh pihak tertentu  dengan tujuan tertentu. Mungkin dibalik semua ini ada teguran dari Allah SWT untuk kita semua yang selama ini masih merasa lebih tinggi dibanding yang lain, merasa mampu melaksanakan atau mencapai apa saja yang ingin kita capai tanpa mempedulikan sesama bahkan dengan melupakan-Nya, atau sering mengeluarkan banyak uang untuk kebutuhan konsumsi yang kadang menjadi mubazir tetapi abai terhadap keadaan orang lain yang kesusahan. Seperti hukum ketertarikan (Law of Attraction) dalam ilmu fisika yang menjelaskan bahwa perilaku positif akan menarik peristiwa yang positif, dan sebaliknya perilaku negatif akan menarik peristiwa yang negatif juga. Jika perilaku negatif, keangkuhan, kesewenang-wenangan yang terjadi tidak dihentikan atau tidak ada berusaha mencegah, maka siapapun akan turut menikmati bencana yang mungkin ditimpakan, tidak hanya kepada yang berbuat negatif saja.

Datangnya bulan Ramadhan sedikit memberikan oase kesejukan untuk menggantungkan sedikit asa supaya wabah ini segera berlalu. Meskipun tahun ini memang berbeda, ada banyak batasan-batasan yang harus dilakukan oleh umat muslim ketika beribadah diakibatkan adanya pandemi global ini. Tidak ada kuliah ashar dan hidangan takjil untuk berbuka puasa di masjid, tidak terdengar suara riuh anak-anak yang bersemangat melaksanakan sholat tarawih berjamaah, tadarus Al Qur’an di masjid pun sepi. Namun demikian, hal ini janganlah menyurutkan langkah kita untuk meningkatkan amal dan ibadah di bulan suci ini. Keputusan pemerintah untuk melakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar harus kita patuhi, demi kebaikan kita semua. Anjuran untuk tetap di rumah mungkin merupakan pilihan terbaik bagi kita untuk memutus mata rantai penyebaran virus ini. Kita tidak sendiri menghadapi ini, hampir semua negara di dunia juga sedang berjuang melawan pandemi global ini. Semoga kesabaran, ketabahan, kekuatan hati, empati, dan simpati kita semakin terasah dengan ujian yang Allah berikan ini.

Selalu ada hikmah dalam setiap kejadian yang Allah tetapkan kepada umat-Nya. Sekarang ini mungkin saat yang tepat untuk melakukan introspeksi diri apakah kita selama ini peduli dengan lingkungan sekitar kita, apakah kita mengetahui ada yang kelaparan di saat kita kekenyangan, ada yang menangis di tengah tawa kita. Semoga kita akan lebih peka terhadap keadaan sekitar kita, ringan tangan  untuk membantu saudara-saudara kita yang kekurangan. Sungguh terasa sekali ternyata ajaran agama tentang zakat, infak, sodakoh memang benar adanya di tengah pandemi global ini. Tidak akan jatuh miskin orang yang mengeluarkan sebagian hartanya untuk membantu orang lain, bahkan akan Allah tambahkan berkali lipat. Kita harus meyakini bahwa rezeki sudah diatur oleh Allah SWT, tidak akan tertukar atau terlalaikan. Senantiasa bersyukur jika kita terpilih menjadi jalan rezeki bagi orang lain, insya Allah ada keberkahan di dalamnya.

Terlepas dari adanya rumor yang berkembang bahwa pandemi covid-19 ini merupakan kesengajaan yang dibuat atau tidak, kenyataanya Allah SWT sudah mengizinkan peristiwa ini terjadi. Jadi sekarang yang dapat kita lakukan adalah terus berusaha bagaimana pandemi ini bisa berakhir sehingga keadaan akan kembali menjadi normal kembali. Di bulan Ramadhan yang penuh barokah ini semoga menjadi kesempatan bagi kita semua untuk menghempaskan sifat keakuan, keangkuhan, ketinggian hati yang mungkin selama ini hinggap di hati kita, berganti dengan sifat rendah hati, ringan tangan, penuh kasih sayang kepada sesama manusia maupun kepada alam semesta, dan meningkatkan lagi ketaatan kepada Allah SWT dan rasul-Nya. Bulan Ramadhan ini juga menjadi kesempatan untuk memohon curahan rahmat dan kasih sayang Allah SWT untuk menghempaskan makhluk kecil-Nya yang bernama covid-19 dari bumi, sehingga tidak ada lagi ketakutan masyarakat untuk melakukan aktivitas seperti yang biasa dilakukan seperti beribadah, belajar, mencari nafkah, dan bersosialisasi dengan masyarakat lainnya, dan yang terpenting lagi adalah pulihnya kondisi perekonomian masyarakat Indonesia.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

4 − 3 =