APAKAH ADA PENGARUH INKLUSI KEUANGAN TERHADAP STABILITAS KEUANGAN ?

Oleh:

Jaka Waskito (Dosen FEB UPS Tegal)

 

Kalau kita mengingat krisis keuangan pada tahun 1998-1999 dan 2007-2009 telah memberikan pelajaran berharga mengenai pentingnya mempertahankan stabilitas keuangan dan mengendalikan risiko keuangan sistemik. Upaya ini berjalan beriringan dengan adanya tuntutan untuk meningkatkan inklusi keuangan, khususnya di negara-negara yang masih terbelakang, sedang berkembang, dan tumbuh cepat. Meskipun, keterbatasan akses sebenarnya masih pula dijumpai pada penduduk di negara-negara yang sudah maju sekalipun. Inklusi keuangan dalam konteks ini dimaknai sebagai akses yang lebih besar terhadap layanan keuangan bagi penduduk dan rumah tangga yang berpendapatan rendah serta perusahaan-perusahaan yang berskala kecil. Layanan keuangan sangat penting bagi penduduk dalam rangka menyiapkan strategi untuk membangun kondisi keuangan dan ekonomi mereka.

Pemaknaan tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai hubungan di antara inklusi keuangan dan stabilitas keuangan. Apakah hubungan keduanya bersifat saling menggantikan (substitusi) atau saling melengkapi (komplemen)? Apakah tingkat inklusi keuangan masyarakat yang lebih baik akan meningkatkan atau justru mengurangi stabilitas keuangan?

Morgan dan Pontines (2014) mengemukakan bahwa sejumlah studi menunjukkan adanya cara positif maupun negatif dari inklusi keuangan dalam memberikan pengaruh terhadap stabilitas keuangan, namun masih jarang penelitian empirik yang dapat menunjukkan adanya hubungan di antara keduanya. Kelangkaan ini kemungkinan disebabkan masih minimnya data inklusi keuangan yang tersedia, karena diskusi mengenai inklusi keuangan masih relatif baru. Dalam penelitiannya, Morgan dan Pontines (2014) dapat membuktikan bahwa peningkatan pangsa penyaluran pinjaman kepada perusahaan berskala kecil dan menengah (UKM) membantu stabilitas keuangan, terutama dengan mengurangi jumlah pinjaman macet (non-performing loan, NPL) dan menurunkan kemungkinan gagal bayar oleh lembaga-lembaga keuangan.

 

Terdapat tiga persyaratan yang berhubungan dengan stabilitas keuangan, yaitu:

  1. sistem keuangan harus mampu mengefisienkan dan memperlancar perpindahan sumberdaya dari para penabung kepada para investor;
  2. risiko-risiko keuangan harus dinilai dan dihargai secara beralasan dan akurat dan juga dapat dikelola dengan baik; serta
  3. sistem keuangan harus berada dalam kondisi yang dapat menyerap berbagai kejutan dan tekanan keuangan dan ekonomi dengan baik.

 

Inklusi keuangan memfasilitasi kelancaran konsumsi (consumption smoothing), karena rumah tangga dapat menyesuaikan simpanan dan pinjaman mereka sebagai respons atas perubahan tingkat bunga dan perkembangan ekonomi yang tidak dapat diduga. Dengan kondisi keterbatasan akses terhadap lembaga-lembaga keuangan formal sekalipun, terdapat banyak cara bagi masyarakat untuk memperlancar konsumsi mereka. Mereka dapat menyimpan dalam bentuk perhiasan atau aset-aset non finansial lainnya. Para petani yang belum memiliki akses terhadap lembaga keuangan formal dapat memperdagangkan ternak mereka atau aset-aset lainnya yang menghasilkan pendapatan, atau mereka dapat melakukan penyesuaian cara kerja sebagai respons atas terjadinya gangguan. Sedangkan sebagai peminjam, para sahabat dan keluarga dapat berperan sebagai pemberi pinjaman yang penting menggantikan perbankan.

 

Khan (2011) dalam Morgan dan Pontines (2014) mengemukakan tiga cara utama di mana inklusi keuangan yang lebih tinggi dapat berkontribusi positif maupun negatif terhadap stabilitas keuangan. Kontribusi positif yang pertama adalah adanya diversifikasi aset-aset bank sebagai hasil dari peningkatan penyaluran pinjaman kepada perusahaan-perusahaan berskala kecil. Diversifikasi ini dapat mengurangi risiko protofolio pinjaman dari suatu bank. Kedua, meningkatnya jumlah penabung berskala kecil akan meningkatkan ukuran dan stabilitas dari basis simpanan serta mengurangi ketergantungan bank terhadap pembiayaan non inti yang cenderung lebih rentan selama krisis. Ketiga, inklusi keuangan yang lebih tinggi berkontribusi pula terhadap transmisi kebijakan moneter yang lebih baik dan stabilitas keuangan yang lebih tinggi. Pandangan ini sejalan dengan Hannig dan Jansen (2010) yang mengungkapkan bahwa kelompok masyarakat yang berpendapatan rendah relatif kebal terhadap siklus ekonomi, sehingga memasukkan mereka ke dalam sektor keuangan akan cenderung meningkatkan stabilitas basis simpanan dan pinjaman.

Adapun kontribusi negatif yang pertama adalah bahwa upaya memperluas peminjam dapat bermuara pada penurunan standar penyaluran pinjaman. Kedua, bank-bank dapat meningkatkan risiko reputasi mereka jika mereka menyerahkan fungsi-fungsinya kepada pihak luar (outsource), seperti penilaian kredit, dalam rangka menjangkau para peminjam berskala kecil. Ketiga, jika lembaga-lembaga keuangan mikro tidak diatur dengan baik, maka peningkatan penyaluran pinjaman dapat menurunkan efektivitas regulasi dalam perekonomian dan meningkatkan risiko sistem keuangan.

FEB UPS Tegal Bekerjasama dengan Lazis Jateng Memberikan Bantuan Beasiswa

 

Sebanyak 8 mahasiswa mendapatlam Santunan bantuan beasiswa pendidikan dari Mitra Pengelola Zakat (MPZ) FEB UPS Tegal bekerjasama dengan Lazis Jateng. Penyaluran dilaksanakan di Gedung Fakultas Ekonomi dan Bisnis UPS Tegal, Rabu, 17 Februari 2021. Peserta Santunan Bantuan beasiswa MPZ ini merupakan pertama program ini, ketua MPZ FEB UPS Tegal, Amirah, S.E.I., M.Si.

Selaku ketua MPZ menyampaikan bahwa seleksi dilaksanakan sangat ketat, diikuti 24 peserta mahasiswa UPS Tegal dari berbagai fakultas, harapan besar mereka yang mendapatkan adalah mereka yang benar-benar membutuhkan.

Santunan Bantuan Beasiswa MPZ ini bertujuan untuk membantu keluarga yang kurang mampu. Selain kurang mampu, prestasi menjadi tolok ukur yang penting dengan melihat daei Indeks Prestasi Mahasiswa minimal 3,00. Dengan program ini diharapkan mahasisea berprestasi yang mempunyai kompetensi handal. Penyaluran beasiswa ini dihadiri sebagai saksi adalah Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Dr. Dien Noviany R., SE., MM., Akt. CA., Wakil Dekan bidang Kemahasiswaan, Dedy Prihadi, SE., M.Kom., serta hadir perwakilan dari Lazis Jateng.

Mencermati Pengaruh Fenomena Influencer Saham pada Investor Milenial

Oleh: Dr. Dien Noviany Rahmatika, SE., MM., Ak. CA.

Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pancasakti Tegal

 

Fenomena influencer dan endorser merambah banyak sektor, termasuk investasi saham. Akhir akhir ini, sering kita lihat para influencer tampil di media tentang saham andalan mereka di media sosial baik lewat youtube, facebook, telegram, instagram, dan media sosial lainnya.

Alih alih sebagai hanya sharing dan memberikan informasi, tampaknya influencer ini menggiring opini publik untuk membeli saham yang sudah dimiliki oleh influencer tersebut.

Terlebih muncul fenomena pompom, yakni saham dipompa (pump) oleh individu atau kelompok sehingga tampak menggiurkan. Umumnya, pompomers (individu yang melakukan pompom saham) mengaku membeli saham tertentu, menghasilkan profit besar, dan kemudian mengajak orang lain juga membeli saham yang ia miliki.

Fenomena ini menjadi menarik mengingat kebanyakan dari influencer adalah selebritas yang kurang faham secara fundamental dengan analisis saham yang direkomendasikan. Padahal disatu sisi, rekomendasi mereka bisa saja dilakukan jutaan pengikutnya.

Beberapa artis bahkan dai kondang didalam platform media sosial mereka menceritakan pengalaman dalam pembelian beberapa saham unggulan. Meskipun beberapa perusahaan telah membantah, beberapa saham antara BRI Syariah (BRIS), Aneka Tambang (ANTM), Perusahaan Gas Negara (PGAS), M Cash Integrasi (MCAS), dan Waskita Karya (WSKT) dll yang disebut oleh para selebritas meroket naik secara signifikan.

Dilihat dari jumlah investor milenial dari tahun ketahun semakin mendominasi. Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) bahkan mencatat bahwa jumlah investor di pasar modal sampai akhir 2020 melebihi 3,87 juta single investor identification (SID).

Jumlah tersebut meningkat 53,2% dibandingkan akhir 2019 yang mencapai 2,48 juta SID. Investor milenial atau investor yang berusia di bawah 40 tahun mendominasi jumlah investor tersebut dengan kontribusi 73,83%. Peningkatan jumlah investor milenial ini ditengarahi seirama dengan banyaknya penjualan agent fintech di pasar modal.

Disinilah bahayanya, mengingat para investor saham pemula yang tertarik masuk ke pasar modal tentu ingin menikmati keuntungan yang besar dan cepat karena saat mereka masuk ke dunia saham mereka menganggap sedang bermain saham bukan berbisnis saham.

Sebagian investor dan trader saham pemula tersebut sering kali hanya mengikuti perspektif yang disampaikan oleh para influencer tanpa mempelajari terlebih dahulu fundamental perusahaan atau saham yang akan dibeli.

Kerugian ini sudah mulai dirasakan, bahkan sampai keluar petisi daring yang diunggah pada platform change.org. Petisi yang digagas oleh pengguna dengan username Retail Bersatu Melawan Pom-pom dan diberi tajuk “Ban Pom-Pomers Saham di Indonesia!” yang ditandatangani lebih dari 5.000 orang pada (3/2/2021).

Beberapa fenomena pom-pom saham ternyata juga terjadi diberbagai belahan dunia, diantaranya adalah Amerika Serikat. Masih teringat dikita di AS, pelaku pom-pom saham bukan hanya influencer biasa namun dari kalangan pengusaha mobil listrik Tesla Inc. Hal tersebut bermula dari grup diskusi saham WallStreetBets Reddit yang mendorong sejumlah trader pemula agar membeli saham GameStop.

Saham terus melonjak, setelah pendiri Tesla Inc. Elon Musk men-tweet tautan ke utas Reddit tentang perusahaan.

Fenomena influencer saham ini memang tidak diatur secara khusus, akan tetapi berakibat buruk apabila investor tidak jeli dan salah perhitungan di pasar saham dengan hanya mengikuti influencer saja. Ketika rugi, dalih mereka hanya memberikan informasi mengenai saham yang mereka beli tanpa bermaksud untuk meminta publik membeli saham-saham tersebut. Berdasarkan UU Pasar Modal No. 8 Tahun 1995, diatur secara rinci mengenai larangan terkait dengan unsur pelanggaran, penipuan, manipulasi harga, hingga potensi insider trading ataupun perdagangan orang dalam.

Beberapa petinggi BEI menyatakan sejatinya jika mengajak dan mengajarkan masyarakat untuk sadar berinvestasi saham di Pasar Modal itu bagus. Namun apabila mengajak dan merekomendasikan untuk membeli saham tertentu apalagi sampai menyebutkan kode saham tanpa ada analisa teknikal dan fundamental, ini yang tidak benar. Itu bisa mengarah pada potensi tuduhan pelanggaran apabila follower mengalami kerugian, pelanggaran manipulasi harga atau bahkan juga sampai dituduh melakukan insider trading.

Berikut ini adalah hal yang perlu diwaspadai oleh investor millenial terkait dengan pompom saham:
Investor millenial hendaknya tidak ‘membeli kucing dalam karung’ dan investor harus melihat kinerja perusahaan dengan sering membedah laporan keuangan emiten. Fundamental yang kuat akan jual beli saham menjadi hal yang perlu dipelajari dan tidak menelan mentah mentah rekomendasinya saham oleh para influencer.

Influencer seringkali memamerkan keuntungan pembelian saham dengan menyebutkan pemebelian perusahaan tertentu. Perlu diketahui bahwa saham merupakan instrumen beresiko tinggi dan cenderung jangka panjang yang pergerakan naik turun tergolong cepat. Influencer yang benar adalah bisa memberikan edukasi kepada masyarakat tentang margin of safety pembelian saham. mengingatkan risiko dan dampak dari rekomendasi saham secara keseluruhan.

Alasan yang diberikan oleh para influencer saham bahwa mereka hanya sekedar sharing dan berbagi informasi kepada publik hendaknya disikapi secara serius oleh pihak berwenang. Jangan lagi ada kerugian besar yang timbul karena adanya influencer ini karena berdampak kurang baik kepada investor pemula.

Tentu saja Endorse saham atau rekomendasi saham tertentu yang dilakukan influencer harus dicermati pihak yang berwenang termasuk Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia. Pihak yang berwenang harus mencermati fenomena ini mengingat masyarakat Indonesia cenderung latah untuk membeli saham yang direkomendasikan tanpa analisis yang kuat.

Perlu adanya diskusi dan pemahaman serta edukasi yang lebih jauh kepada influencer terkait transaksi di Pasar Modal Indonesia. Dengan adanya hal ini harapannya, kedepan dengan adanya influencer ini bisa membawa pengaruh yang positif terhadap perkembangan pasar modal Indonesia.

Securities Crowdfunding: Sebuah Jalan Bagi UKM dan UMKM untuk Naik Kelas

Oleh: Jaka Waskito*)

Perkembangan dunia bisnis di Indonesia semakin melaju pesat. Adanya pandemi Covid-19 justru menjadi lecutan bagi generasi milenial untuk mengembangkan kreativitas dan melebarkan sayapnya di dunia bisnis.

Usaha Kecil dan Menengah (UKM) maupun Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menjadi senjata yang cukup ampuh untuk melindungi nasib perekonomian Indonesia.

Terbukti ketika Indonesia mengalami krisis tahun 1998, di mana banyak perusahaan besar melakukan PHK besar-besaran, UKM mampu bertahan di tengah derasnya tekanan ekonomi nasional.

Melihat diagram di atas, menunjukkan perkembangan UKM terhadap PDB Indonesia. Pada tahun 2010, UKM berkontribusi sekitar 3000 triliun bagi PDB Indonesia.

Kemudian angka tersebut kian melesat hingga pada tahun 2018, UKM berhasil menyumbang 8000 triliun bagi PDB Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa basis ekonomi Indonesia yang sebenarnya adalah usaha-usaha masyarakat kecil dan menengah.

Menyadari bahwa UKM dan UMKM-lah sebagai pelindung ekonomi bangsa, agaknya pemerintah tergerak untuk melihat realitas di lapangan bahwa masih banyak pelaku-pelaku usaha yang memiliki masalah dalam bidang permodalan dan pengelolaan strategi usaha. Menurut Harrington Emerson, manajemen harus memiliki lima unsur (5M) yaitu men, money, materials, machines, and methods.

Dari apa yang disebutkan oleh Harrington, ternyata pelaku-pelaku usaha masih kekurangan seluruh aspek untuk mendukung manajemen bisnis mereka. Hal utama yang mereka butuhkan agar UKM atau UMKM nya naik kelas adalah modal dan SDM.

Merespon permasalahan tersebut, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tergerak untuk memudahkan pelaku UKM dan UMKM mendapatkan modal serta SDM melalui “Crowdfunding”. Bagaimana Crowdfunding bekerja untuk membantu para UKM dan UMKM?

Pertama, pemilik ide bisnis harus menentukan target pengumpulan dana untuk suatu projek Crowdfunding. Kedua, Target dan ide bisnis ini akan dilemparkan ke suatu platform yang penuh dengan investor.

Ketiga, Para investor kemudian dapat memilih satu atau beberapa proyek dan memutuskan untuk menginvestasikan dananya, dimulai dari nilai serendah mungkin. Jika nantinya dana yang terkumpul berjumlah lebih banyak dari target semula, pemilik ide bisnis tetap berhak menerimanya.

Proyek crowdfunding bersifat ‘share-based’, artinya para investor bisa menjadi pemilik saham dan mendapatkan dividen. Namun, ada juga yang bersifat ‘reward-based’, yang artinya para investor akan mendapatkan produk dari proyek yang didanai ketika sudah launching atau mendapatkan hadiah dari investasi yang diberikan.

Contohnya adalah pada usaha video games, investor akan mendapatkan produk game tersebut paling awal ketika launching.

Dalam melindungi segala kegiatan Crowdfunding, OJK mengeluarkan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 57 /Pojk.04/2020 Tentang Penawaran Efek Melalui Layanan Urun Dana Berbasis Teknologi Informasi (securities crowdfunding atau SCF). POJK No. 57 Tahun 2020 ini menggantikan POJK Nomor 37 Tahun 2018 tentang Layanan Urun Dana Melalui Penawaran Saham Berbasis Teknologi Informasi (Equity Crowdfunding atau ECF).

POJK SCF ini hadir sebagai alternative sumber pendanaan yang cepat, mudah, dan murah bagi kalangan generasi muda dan UKM yang belum bankable untuk mengembangkan usahanya. Perbedaan POJK SCF dan POJK ECF adalah perluasan efek yang ditawarkan, yakni SCF selain menawarkan efek yang bersifat ekuitas juga menawarkan efek yang bersifat utang atau sukuk.

Selain itu, SCF juga dinaungi oleh Asosiasi Layanan Urun Dana Indonesia (ALUDI) yang akan memberikan pendampingan dan perlindungan kepada investor dan melakukan penertiban jika kemudian hari ada pelanggaran market conduct.

Pada perkembangannya, OJK melalui POJK SCF menargetkan para investor tidak hanya dari Perseroan Terbatas (PT), seperti yang diatur dalam POJK ECF, namun dapat berasal dari kalangan milenial dengan gaya investasi yang mudah dan murah. Tercatat hingga kini, sudah ada 317.687 anggota yang mendaftar. Pada 2021, anggota diproyeksi meningkat jadi 500.000 orang.

Oleh karena itu, hadirnya POJK SCF ini memberikan peluang bagi UKM dan UMKM untuk melepaskan diri dari belenggu permasalahan modal serta SDM, sekaligus melatih para generasi milenial untuk berinvestasi kepada negeri.

Ideologi ekonomi Pancasila yang kerakyatan akan tetap mampu untuk bertahan meski kapitalisasi ekonomi yang semakin hari semakin kuat memasuki setiap negara. (**)

*) Dosen FEB UPS Tegal

Transfer Kredit sebagai Jalan Kampus Merdeka di Era Pandemic

Oleh: Kusnaeni Indah 
Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pancasakti Tegal

 

Dalam Era Modernisasi, menuntut manusia untuk memiliki jiwa kompetitif agar tetap bertahan hidup dalam dunia yang cepat berubah ini. Begitupun perkembangan yang terjadi pada ranah pendidikan, salah satunya adalah Program Transfer Kredit yang cukup bergengsi untuk meningkatkan citra baik pada sebuah kampus.

Bagaimana tidak? hal tersebut dapat menciptakan kualitas keunggulan bersaing dalam dunia pendidikan. Dari program tersebut kita dapat menempuh studi di Luar Negeri selama satu semester yang akan ditujukan kepada mahasiswa berprestasi. Program yang berkelanjutan ini dapat juga meningkatkan kolaborasi antar-kampus secara Internasional.

Kita mengetahui bahwa Pandemic COVID-19 telah mengakibatkan semua kegiatan menjadi terhambat, akibat adanya larangan untuk berinteraksi secara langsung tanpa menggunakan protokol kesehatan. Dalam kegiatan pendidikan sekarang ini pun tidak menganjurkan para siswanya untuk hadir dalam melakukan kegiatan belajar mengajar secara  tatap muka.

Hal tersebut dialami juga pada kegiatan Transfer Kredit. Meski begitu adanya, COVID-19 tidak dijadikan sebuah alasan keberlangsungan Program Transfer kredit di masa yang sedang memprihatinkan ini.

Program Tranfer Kredit menjadi salah satu pembuka Jalan baru bagi Kampus Merdeka pada masa pandemic dimana bukanlah suatu penghalang bagi Kampus Merdeka untuk tetap dapat menginternasional dalam menjaga kepercayaan dan kerjasama dengan kampus luar negeri, melakukan pertukaran pelajar terbaiknya.

Dengan adanya Teknologi, mempermudah manusia untuk melakukan segala aktivitasnya menjadi lebih efesien dan fleksible baik sebelum pandemic maupun setelah adanya pandemic. Pada dunia pendidikan sekarang ini pun telah memanfaatkan teknologi sebagai sarana pembelajaran jarak jauh atau dengan istilah lainya yaitu e-Learning.

Teknologi juga menjadi solusi terbaik bagi para mahasiswa terpilih transfer kredit untuk tetap menjalankan kesempatan emasnya belajar di luar negeri meskipun secara Virtual.

Benefit menjadi mahasiswa Transfer Kredit adalah memperoleh pengalaman yang sangat mengesankan, meningkatkan skill kita dalam berbahasa inggris, mendapatkan wawasan yang lebih luas dengan perspektif dan sudut pandang orang luar, sehingga melatih daya bertukar pikir dengan kebudayaan maupun kebijakan sistem pendidikan yang sangat berbeda.

Untuk dapat menerima perbedaan tersebut, kita harus memiliki kesiapan mental agar cepat beradaptasi dengan lingkungan belajar yang baru. Namun, Program Transfer Kredit yang dilakukan secara online ini masih terbilang memiliki kekurangan yaitu seperti tidak bisa merasakan interaksi secara nyata serta di dalam penerimaan sebuah materi pelajaran akan sangat bergantung pada kondisi sinyal.

Disisi terbaik lainya, adanya Program Transfer Kredit, kita akan memiliki competitive advantage yang lebih mumpuni tidak hanya sebatas dalam negeri namun secara kancah Internasional.

Bagaimana kita dapat ikut merasakan Program Transfer Tredit tersebut? Apa saja hal-hal yang harus dipersiapkan bagi seorang mahasiswa yang tidak ingin melewatkan kesempatan bagus ini? Lalu, berapakah biayanya?

Hal pertama yaitu Pastikan apakah kampus kita memiliki Program Transfer Kredit? Jika ada, maka persiapkan diri kita terlebih dahulu khususnya dalam bidang akademik dengan IPK minimal 3,00 dan asah kemampuan kita dalam berbahasa inggris yang baik.

Dua hal tersebut layak untuk dijadikan sebuah patokan keberhasilan dalam mengikuti tahapan seleksi wawancara dan tes TOEFL. Selain itu, anda tidak perlu khawatir mengenai pembiayaannya, karena Program Transfer Kredit telah dibiayai langsung oleh Belmawa Dikti melalui Universitas yang mendapatkannya.

Harapan kedepannya, Semoga lebih banyak mahasiswa di luaran sana maupun adik-adik kelas yang semakin tau adanya program transfer kredit ini, semoga pada tahun depan juga dapat dilakukan secara normal lagi, sehingga dapat menikmati indahnya jalan-jalan gratis ke luar negeri selain bertujuan untuk menempuh pendidikannya selama setengah tahun ini.

Merger Bank Syariah Bentuk Efisiensi, Benarkah?

Oeh: Catur Wahyudi SEI MSi
(Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pancasakti Tegal)

 

Indonesia resmi memulai proses penggabungan tiga bank syariah milik pemerintah, yakni BRI Syariah, Bank Syariah Mandiri, dan BNI Syariah, menjadi satu bank syariah besar. Proses penggabungan anak usaha bank milik negara ini ditargetkan rampung pada Februari 2021.

Menteri Erick Thohir mengatakan pemerintah sudah merencanakan dengan matang pembentukan bank umum syariah terbesar pertama Indonesia.

Dengan penduduk mayoritas Muslim, Erick menilai potensi perbankan syariah masih sangat besar sekaligus memberikan opsi bagi masyarakat yang lebih nyaman menggunakan sistem perbankan syariah.

“Keinginan Indonesia memiliki bank umum syariah nasional terbesar di tahun 2021 merupakan bagian dari upaya dan komitmen pemerintah untuk mengembangkan dan menjadikan ekonomi keuangan syariah sebagai pilar baru kekuatan ekonomi nasional,” lanjut Erick Thohir.

Mimpi Kementerian BUMN membuat bank-bank BUMN jadi satu akan terwujud. Sehingga, bisa membuat produk-produk yang menarik untuk nasabah Indonesia.

Sebelumnya, Erick juga melakukan merger pada bank-bank Syariah milik Himpunan Bank Negara (Himbara). Dengan penduduk muslim terbesar di dunia, Indonesia pasti membutuhkan produk-produk syariah dari perbankan.

Terdapat beberapa fakta dan angka dapat dicatat yang memberikan harapan dari rencana merger ini. Selama 2020, BRI Syariah mengalami peningkatan pembiayaan di segmen ritel yang tumbuh 49,74 persen menjadi Rp20,5 triliun.

Sedangkan BNI Syariah, yang baru saja menjadi Bank BUKU III pada kuartal I tahun ini, berhasil mencatatkan kenaikan laba bersih 58,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu menjadi Rp214 miliar.

BSM, membukukan laba bersih Rp368 miliar pada kuartal I 2020, naik 51,53 persen dibandingkan periode sama tahun lalu (yoy).

Statistik terbaru yang penulis update dari laman OJK menunjukkan, tiga bank yang akan dimerger, meminjam bahasa Ahmad Dani, merupakan separuh napas bank syariah Indonesia. Aset mereka sekitar 40 persen dari total aset seluruh bank syariah.

Dalam merger itu, BRI Syariah ditunjuk sebagai pemegang entitas atau surviving entity. Ini, tampaknya, terkait dengan posisi BRI Syariah sebagai satu-satunya yang sudah go public. Meski beraset paling besar, Bank Syariah Mandiri (BSM) bukan perusahaan publik sehingga persetujuan merger jauh lebih sederhana. Begitu juga BNI Syariah yang hampir semua sahamnya dimiliki BNI.

Saat ini persaingan di industri perbankan syariah memang sangat ketat. Market yang relatif kecil, sekitar 6,2 persen dari total pasar perbankan, harus diperebutkan 34 bank syariah. Mereka terdiri atas 14 bank umum syariah (BUS) dan 20 unit usaha syariah (UUS), yakni unit syariah (windows) dari bank konvensional. Ditambah lagi 165 bank pembiayaan rakyat syariah (BPRS).

Bank syariah juga harus bersaing dengan bank konvensional. Sebab, emotional market atau nasabah yang memilih karena faktor syariah hanya sekitar 20 persen. Sebanyak 80 persen nasabah adalah rational market atau swing customer (Karim, 2000). Mereka berorientasi pada benefit saat memilih layanan perbankan. Saat benefit di bank syariah lebih kecil, nasabah berpindah ke bank konvensional (displacement commercial risk).
Dengan karakter nasabah rational market tersebut, merger ketiga bank syariah BUMN sangat strategis.

Dengan aset yang besar, kegiatan operasional bank syariah hasil merger akan lebih efisien. Jumlah direksi, komisaris, dewan pengawas syariah, dan eksekutif di bawahnya bakal berkurang banyak. Begitu juga pengoperasian kantor seperti kantor wilayah, kantor cabang, atau cabang pembantu.

Setelah resmi merger pada triwulan I 2021, asetnya sekitar Rp220 triliun. Saat ini aset tiga bank itu masih kurang dari Rp210 triliun. Artinya, hingga legal merger selesai pada Februari tahun depan, pertumbuhan aset ketiga bank syariah ini sekitar 5 persen. Dengan aset tersebut, bank syariah hasil merger dipekirakan menjadi bank terbesar ketujuh atau delapan di Indonesia.

Di kancah global, bank syariah hasil merger juga masuk dalam 10 besar.
Hasil dari merger bank-bank syariah menjadi satu BUMN Syariah yang besar diharapkan dapat membantu menjadi solusi atas lambannya perkembangan industri perbankan syariah.

Diharapkan, setelah merger, bank BUMN syariah semakin fokus dan menjadi teladan bagi bank syariah lainnya dalam segala aspek termasuk proses bisnis lebih efektif dan efisien, memiliki pertumbuhan jaringan lebih agresif, dan inovasi produk lebih baik.

Efek merger terbesar adalah aspek skala ekonomis yang akan memberikan dampak luar biasa bagi industri perbankan syariah. Maka, aspek kepemimpinan dan sinergitas perlu menjadi perhatian khusus. Selain efisiensi, merger bank syariah punya nilai strategis lain. Dengan aset yang besar, bank syariah hasil merger dapat menerapkan prinsip syariah lebih kaffah.

Model bagi hasil yang seharusnya menjadi karakteristik utama bank syariah dapat dijalankan dengan baik karena tersedianya dana pembiayaan bagi hasil yang uncertainty tanpa khawatir risiko likuiditas.

Dampak merger terhadap perkembangan ekonomi syariah juga diyakini positif, karena entitas baru yang lahir dari aksi korporasi ini akan memiliki modal besar untuk bergerak menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi nasional serta bank syariah hasil merger memiliki potensi bagus karena akan mewarisi hal-hal baik dari tiga entitas yang terlibat.

Hal ini membuat bank syariah hasil merger memiliki kekuatan komplit untuk memperbesar pangsa pasar keuangan syariah.

Saat ini bank syariah lebih banyak menerapkan model bagi hasil pada sisi funding saja berupa deposito mudarabah.

Pada sisi financing, bank syariah lebih banyak menerapkan model fixed rate meski tetap sesuai syariah, yaitu dengan akad berbasis jual beli (murabahah) dan sewa (ijarah). Praktik seperti itu mengecewakan emotional customer yang menginginkan bank syariah bisa menerapkan substansi prinsip syariah. Tidak sekadar mengubah produk konvensional menjadi produk syariah dengan mengubah akad.

Sinergi akan meningkatkan kinerja dan menurunkan biaya. Sinergi penurunan biaya, biasanya diperoleh dari penghematan dan skala ekonomis internal. Sinergi diraih di antaranya dari efisiensi dengan mengurangi cabang bank tumpang tindih dan efisiensi SDM.

Setelah merger, masih banyak pekerjaan rumah pemerintah untuk industri bank syariah. Diperlukan komitmen pemerintah yang sangat kuat untuk mendorong industri tersebut. Jika menginginkan bank syariah hasil merger menjadi sangat kuat, pemerintah perlu memperbesar modal.

Baik melalui suntikan modal maupun penerbitan saham publik. Sebab, saat aset dan pembiayaan meningkat, bank juga harus memperbesar modal untuk mempertahankan kecukupan modal (CAR).

Dengan merger bank BUMN syariah, publik tentu berharap ada sinergi dari alih teknologi, pengetahuan, dan pemasaran yang pada akhirnya mengakselerasi pertumbuhan perbankan syariah di Indonesia.

Indonesia membutuhkan bank syariah berskala besar yang dapat meningkatkan efektivitas perbankan syariah dalam menjalankan operasionalnya.

Mahasiswa FEB UPS Kuliah di India

Selamat untuk 2 Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis UPS Tegal.
Vindy Franciska Pujiati (Manajemen ’18’)
Andini Eka Risti (Akuntansi ’18’)
Lolos program
Transfer Credit Schoolarship Program Jindal Global University India 2021.